Makna dan filosofi lomba 17 agustus

Di banyak daerah, perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus secara bersamaan dirayakan dengan beragam lomba. Perlombaan “17 Agustusan” tersebut di antaranya panjat pinang, makan kerupuk, dan balap karung.

Bukan sekadar lomba, tapi panitia penyelenggara biasanya juga menyiapkan hadiah untuk para pemenangnya. Lelaki, perempuan, dan anak-anak ikut berpartisipasi.

Namun, meski dilakukan hampir setiap tahun, tak banyak masyarakat Indonesia sadar asal mula tradisi perayaan 17 Agustus tersebut. Padahal, beberapa jenis perlombaan sebenarnya punya sejarah dan filosofi tersendiri. Dari mana awal mulanya?

Hingga kini tidak diketahui pasti siapa tokoh pelopor tradisi perlombaan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang pasti, perlombaan “17 Agustusan” mulai jamak dilakukan sekitar tahun 1950-an.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan kala itu mulai surut. Ibu kota negara yang sempat dipindahkan ke Yogyakarta kembali ke Jakarta.

Masyarakat pun ingin merayakan kemerdekaan yang sangat sulit diraih dan dipertahankan itu. Beragam lomba spontan dilakukan, mulai dari panjat pinang, lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung.”Tapi perlombaan itu merupakan comotan dari masa Belanda dan terutama zaman (penjajahan) Jepang yang ditambah dengan aneka lomba baru,” kata sejarawan J J Rizal.

Panjat pinang misalnya, lanjut Rizal, sudah terlihat di gambar-gambar masa kolonial Belanda. Ulang tahun Djawa Baroe—tepat saat Jepang datang pada Maret 1942—juga dirayakan dengan lomba-lomba seperti tarik beban berat atau lomba kuda-kuda.

“Jadi lomba-lomba itu persambungan dari masa sebelum kemerdekaan yang diperkaya dan diberikan isi baru untuk mengenang momen sejarah baru,” tutur Rizal.

Dalam perjalanannya, perlombaan lalu diadakan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

“Bukan untuk menghormati Ratu Belanda atau kedatangan Jepang lagi, tapi lahirnya Indonesia,” ujarnya.

Bahkan, presiden pertama Indonesia, Soekarno, kala itu sama antusiasnya dengan masyarakat. Ia mau menandatangani buku untuk dijadikan hadiah lomba.

Karena dilakukan beragam kalangan, sontak perlombaan untuk merayakan kemerdekaan kian masyhur ke seantero negeri. Lomba-lomba itu tetap hadir dan meriah sampai hari ini.

Filosofi

Lomba-lomba tersebut pun sebenarnya memiliki makna mendalam. Balap karung, misalnya, mengingatkan pada perihnya penjajahan, terutama saat zaman Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang, penduduk Indonesia begitu miskin sampai-sampai tak mampu membeli kebutuhan sandang. Karung goni pun dipakai sebagai gantinya.

Lomba makan kerupuk sama pula. Tangan peserta lomba diikat sambil berusaha memakan kerupuk yang menggantung, menggambarkan kesulitan pangan pada masa penjajahan.

Nah, tarik tambang juga menyimpan filosofi tersendiri. Lomba ini bukan hanya adu kekuatan. Tanpa tim yang kompak, kemenangan sulit diraih. Tarik tambang mengajarkan tentang gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas.

 

Artikel di lansir dari Kompas.

 

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.